
SURABAYA — liramediarevolusi.com : Pelaksanaan Kongres Syarikat Islam (SI) ke-42 tampak berlangsung megah dan semarak. Berbagai rangkaian kegiatan kongres menjadi perhatian, terlebih dengan besarnya nama organisasi yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul sorotan dari kalangan peserta atau anggota di tingkat bawah.
Sejumlah peserta mempertanyakan pemberian uang transportasi yang dinilai tidak seragam dan dianggap belum sebanding dengan kebutuhan mereka untuk mengikuti kegiatan kongres.
Informasi yang beredar di kalangan peserta menyebutkan, terdapat peserta yang hanya menerima uang transportasi sekitar 40.000 daerah ampel dan sidotopo, sedangkan pacar keling 50.000 , sukolilo 60.000.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme serta dasar penentuan besaran transportasi bagi peserta.
“Kalau memang kongres ini membawa nama besar Syarikat Islam, kami berharap perhatian terhadap peserta di bawah juga diperhatikan. Jangan sampai yang terlihat hanya kemegahannya, sementara kebutuhan peserta justru terabaikan,” ujar salah seorang peserta yang meminta identitasnya tidak disebutkan.


Persoalan tersebut menjadi perhatian karena peserta yang hadir tidak semuanya berasal dari wilayah sekitar lokasi kongres. Mereka harus mengeluarkan biaya transportasi, konsumsi, dan kebutuhan lainnya selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Perbedaan pemberian uang transportasi juga menjadi pertanyaan tersendiri. Peserta berharap pihak panitia dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kriteria, mekanisme, dan besaran uang transportasi yang diberikan kepada masing-masing peserta.
Kongres seharusnya tidak hanya menjadi momentum memperlihatkan kemegahan acara dan kebesaran organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat rasa kebersamaan hingga ke tingkat akar rumput.
Jika benar terdapat peserta yang hanya menerima Rp40 ribu, sementara kebutuhan transportasi mereka jauh lebih besar, persoalan ini tentu perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi dari pihak penyelenggara.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan resmi dari panitia Kongres Syarikat Islam ke-42 mengenai mekanisme dan perbedaan pemberian uang transportasi tersebut.
Kemegahan kongres menjadi kurang bermakna apabila suara dan kebutuhan peserta di tingkat bawah tidak ikut mendapatkan perhatian.( Red )