Pulang Tak Sampai: Duka Mendalam atas Kepergian Sheila Amelia Christianti, Mahasiswi UGM

Bagikan Artikel

YOGYAKARTA — Duka menyelimuti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan masyarakat luas setelah Sheila Amelia Christianti (22), mahasiswi Fakultas Pertanian, ditemukan meninggal dunia dalam sebuah parit di kawasan Gunung Lawu pada Sabtu, 12 April 2025. Kepergian Sheila menjadi akhir pilu dari pencarian yang berlangsung selama 19 hari, sejak ia dinyatakan hilang saat dalam perjalanan mudik dari Yogyakarta menuju kampung halamannya di Madiun, Jawa Timur.

Menghilang Saat Perjalanan Pulang

Sheila terakhir kali diketahui mengikuti kuliah daring pada 25 Maret 2025. Sehari setelahnya, ia berencana mudik menggunakan sepeda motor. Namun, setelah itu, ia tidak lagi bisa dihubungi oleh keluarga maupun rekan-rekannya. Tidak ada kabar, tidak ada jejak. Hanya kekhawatiran yang tumbuh setiap hari. Keluarga pun langsung membuat laporan orang hilang dan mulai menyebarkan informasi di media sosial.

Upaya pencarian dilakukan oleh keluarga, relawan, serta komunitas mahasiswa. Setiap hari, berbagai sudut jalur Yogya–Madiun ditelusuri. Doa dan harapan tak henti dipanjatkan agar Sheila ditemukan dalam keadaan selamat. Namun takdir berkata lain.

Ditemukan Tak Bernyawa

Pada tanggal 12 April, jenazah Sheila ditemukan oleh warga setempat dalam kondisi tak bernyawa di sebuah parit pinggir jalan di kawasan Gunung Lawu, tertindih sepeda motornya sendiri. Penemuan itu sontak mengejutkan semua pihak.

“Posisi tubuhnya seperti sedang dalam perjalanan, tapi tak ada yang melihatnya terjatuh atau mendengar kecelakaan,” ungkap salah satu warga yang turut mengevakuasi jenazah.

Pihak kepolisian menyebut bahwa saat ini kasus masih dalam proses penyelidikan. Belum ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan, dan dugaan awal mengarah pada kecelakaan tunggal yang tidak segera diketahui karena lokasi yang terpencil.

Duka Mendalam dari Teman dan Kampus

Rekan-rekan Sheila menggambarkannya sebagai sosok yang lembut, ramah, dan penuh semangat. Ia aktif dalam kegiatan kampus dan dikenal dekat dengan teman-temannya. Di media sosial, tagar #SheilaAmelia dan #PrayForSheila sempat menjadi trending, penuh dengan doa, kesaksian, dan ucapan belasungkawa.

Fakultas Pertanian UGM juga menyampaikan rasa duka cita mendalam melalui pernyataan resmi. “Kami kehilangan sosok mahasiswi yang tidak hanya cerdas, tapi juga sangat baik hati. Semoga keluarga diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini,” tulis Dekan Faperta UGM dalam surat terbuka.

Cermin Kerapuhan Sistem Keamanan Mahasiswa?

Tragedi Sheila menjadi alarm keras tentang perlunya perhatian lebih pada keamanan dan kesejahteraan mahasiswa, terutama yang melakukan perjalanan jauh secara mandiri. Di tengah keterbatasan sistem pendataan perjalanan, banyak mahasiswa bepergian tanpa pantauan siapa pun.

Selain itu, beberapa suara mengaitkan kejadian ini dengan pentingnya layanan darurat dan respon cepat di daerah-daerah rawan. Banyak pihak menyerukan agar pihak universitas dan pemerintah meningkatkan sinergi untuk menciptakan sistem pelacakan atau “travel buddy” bagi mahasiswa, terutama saat libur panjang atau mudik.

Kesedihan yang Menjadi Renungan

Kisah Sheila adalah kisah yang menyayat. Ia pergi untuk pulang, namun tak pernah sampai. Ia tak hanya menjadi angka dalam statistik korban kecelakaan atau hilang. Ia adalah anak, teman, saudara, dan pelajar dengan cita-cita besar.

Semoga kepergiannya tidak menjadi akhir dari segalanya, tapi menjadi awal bagi kesadaran dan perbaikan. Tentang pentingnya saling menjaga, tentang pentingnya keselamatan dalam perjalanan, dan tentang betapa nyawa begitu berharga.

Al-Fatihah…


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *