Paket Menu MBG SPPG Kepohagung Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban Tuai Sorotan

Bagikan Artikel

Tuban, Liramediarevolusi.com – Polemik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Kepohagung Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban kembali mencuat. Paket konsumsi yang dibagikan kepada siswa dinilai sejumlah pihak tidak sesuai menu makan bergizi lengkap sebagaimana tujuan awal program.

Penilaian tersebut muncul setelah wali murid SDN 1 Trutup mengeluhkan kepada awak media liramediarevolusi.com dan beredarnya dokumentasi paket makanan yang diterima siswa SDN 1 Trutup hari ini Kamis, 2 April 2026 Dalam satu kemasan panci plastik terlihat isi berupa nasi goreng, irisan mentimun, krupuk,irisan semangka tipis, ayam geprek yang di bungkus tepung dagingya sangat sedikit, ” sak durunge libur lebaran malah susu di utang sampek sak iki ra onok kejelasan” ungkap wali murid MI Kesamben yang tidak mau di sebut namanya “
Wingi yaa menune nasi kuning buahe kelengkeng ya garing ra kenek di pangan ” tuturnya, dan 12 – 13 Maret menunya Getuk pak lanjut dia,
Kondisi tersebut memantik tanda tanya publik. Pasalnya, istilah “Makan Bergizi Gratis” mengandung makna penyediaan menu lengkap dengan komposisi karbohidrat, protein, sayur, dan buah yang memenuhi standar gizi seimbang. Sementara paket yang dibagikan dinilai belum merepresentasikan konsep tersebut secara utuh.

Padahal baru kemarin sosialisasi pengawasan di perketat Rabu, 1 April 2026 di Pendopo kabupaten Tuban dari Kejaksaan Agung RI bidang intelejen dan Wakil Ketua Badan Gizi Nasional menggandeng Pengurus ABPEDNAS hari ini sudah mencuat menu MBG yang tidak sesuai standart Gizinya.
Ini persoalan yang serius harus di awasi benar benar tidak hanya sebagai formalitas sosialisasi pengawasan dan SPPG yang masih main main harus di evaluasi dan kalau tidak bisa memperbaiki harus di hentikan operasionalnya.

Seorang ahli gizi yang dimintai pendapat menyebut, menu tersebut memang mengandung zat gizi, namun jumlahnya dinilai belum memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebagaimana diatur Kementerian Kesehatan.

“Analoginya, jika kebutuhan energi harian 150 kalori dari lima zat gizi utama, dan MBG diberikan satu kali makan siang saat tidak puasa, maka idealnya minimal memenuhi sekitar sepertiga atau 50 kalori. Namun kenyataannya diduga tidak sampai angka tersebut,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi mubazir apabila makanan tidak dikonsumsi karena tidak sesuai selera atau kebutuhan siswa. “Kalau tidak dimakan, tentu menjadi pemborosan. Padahal substansi program adalah pemenuhan gizi, bukan sekadar distribusi makanan,” tambahnya.

Sementara, sampai berita ini di turunkan belum ada keterangan resmi dari pihak kepala dapur mbg sppg Kepohagung.

Media ini akan terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait guna memastikan transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program di lapangan. ( red. )


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *