Warga Pasar Pesapen Krembangan Utara Resah: Rela Mengosongkan Stan, Tapi Nasib Tempat Tinggal Belum Jelas

Bagikan Artikel

Surabaya, 12 Juli 2026 – Liramediarevolusi.com – Suasana cemas dan penuh kegelisahan melanda warga lingkungan Pasar Pesapen, Kelurahan Krembangan Utara, Kecamatan Pabean Cantian, sejak diterimanya instruksi pengosongan lahan stan pada 6 Juli 2026 kemarin. Puluhan warga yang telah menempati tempat ini selama puluhan tahun sebenarnya tidak menolak kebijakan tersebut dan rela mengosongkannya, namun satu hal yang membuat mereka sangat resah: belum ada kejelasan di mana mereka harus tinggal setelahnya.

Lahan dan bangunan stan di Pasar Pesapen ini telah mengalami perubahan fungsi sejak tahun 1970-an. Selama lebih dari 50 tahun, tempat ini bukan sekadar lokasi berdagang, melainkan telah berubah menjadi hunian tetap yang dihuni secara turun-temurun. Stan yang dulunya tempat berjualan kini telah disulap menjadi rumah sederhana tempat mereka membesarkan anak dan menumpahkan seluruh kehidupan mereka.

Instruksi pengosongan ini datang dari pihak PD Pasar Surya. Sikap warga sebenarnya sangat terbuka: mereka mau dan rela mengosongkan stan yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka. Namun, keikhlasan itu berubah menjadi kekhawatiran mendalam ketika tidak ada satu pun solusi yang ditawarkan. Mereka hanya diminta untuk pergi, tanpa tahu harus berpindah ke mana.

Jumlah warga yang terdampak cukup banyak, yaitu sekitar 100 warga asli Kota Surabaya dan 25 warga lainnya yang berasal dari berbagai wilayah Jawa Timur. Bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, mencari tempat tinggal baru yang layak dan terjangkau di wilayah Surabaya bukanlah hal yang mudah. Stan yang mereka tempati saat ini adalah satu-satunya aset dan tempat berteduh yang mereka miliki.

Hingga hari ini, kegelisahan warga semakin memuncak lantaran belum ada informasi maupun solusi sama sekali baik dari pihak PD Pasar Surya maupun Pemerintah Kota Surabaya. Tidak ada penjelasan mengenai alasan pengosongan, rencana penggunaan lahan selanjutnya, apakah akan ada relokasi, ganti rugi, atau bantuan tempat tinggal. Warga merasa nasib mereka diabaikan dan seolah dibiarkan bingung sendiri menentukan langkah.

Sampai saat ini, warga berharap pihak berwenang segera turun tangan, membuka dialog, dan memberikan kejelasan serta solusi yang adil dan manusiawi. Mereka rela mengosongkan lahan, asalkan ada kepastian tempat tinggal agar tidak menjadi tunawisma di tanah sendiri.( Red )


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *